Catatan untuk pengutang

 Saya menulis ini bukan dalam rangka merendahkan orang yang berhutang. Terminologi berhutang disini adalah berhutang secara pribadi person to person, bukan hutang kepada Bank yaa.  Kenapa demikian? Sebab hutang kepada Bank pertimbangan yang dilakukan oleh Bank sudah sangat teliti, sehingga hanya orang yang layak saja yang diberikan.   Berbeda dengan hutang pribadi, ini yang pertimbangannya hanya hati saja (kadang-kadang) sehingga jika tidak tertagih juga akan makan hati atau kecewa.   Bahkan bisa merusak hubungan persaudaraan atau pertemanan.

Prinsip utama para pengutang yang harus diperhatikan adalah Setiap hutang harus dibayar dengan jumlah sama dan dalam kurun waktu tertentu. Prinsip ini sering dilanggar dan memanfaatkan belas kasihan si pemberi hutang. Ini menjengkelkan sesungguhnya.  Bukankah pemberi hutang juga punya permasalahan sendiri? Bukan menjadi ATM yang setiap saat bisa di tarik uangnya.  Kalau sedang membutuhkan maka akan memasang wajah memelas dan menghiba supaya bisa diberikan pinjaman.  Tapi tahukah hai kalian pemberi hutang, jika para pengutang memasang wajah yang sama pada 5 orang saja maka bisa jadi omsetnya sudah bisa dikalikan 5 bukan.  Kita pemberi hutang tidak tahu lingkaran atau circle mereka, sehingga kita hanya punya gambaran seolah-olah kita sendiri yang memberikan pinjaman. Padahal...... omaigat bisa jadi dia mengcopas nya kepada banyak orang yang berbeda lingkaran/kalangan.  Sehingga tidak bisa saling ngecek. Ini jahatnya para pengutang yang buruk.

Sikap kita kepada mereka yang jenis ginian harus tegas dan tidak mudah emosional memakai hati, karena itu akan menipu perasaanmu sendiri. Karena yang beginian terbukti tidak pernah menyelesaikan pinjamannya dengan baik atau ngemplang.  Sebagai pemberi hutang maka cukup berikan secukupnya dan anggaplah uang hilang.  Supaya kita tidak pernah kecewa dan rusak relasi kita. Kecuali kita memang sudah hendak tidak berhubungan sama sekali dengan mereka, ya blokir lah mereka semua dan damai sejahteralah hidupmu ha ha ha...

Selamat mencoba curhatan saya

Jangan saling menyalahkan

Mari kita merenungkan firman Tuhan dalam Kitab Kejadian 45:24

 "Kemudian ia melepas saudara-saudaranya serta berkata kepada mereka:" Janganlah berbantah-bantah di jalan," Perkataan ini muncul setelah Yusuf membuka jati dirinya di hadapan saudara-saudaranya, ia merasa khawatir bilamana saudara-saudaranya nanti saling mempersalahkan satu dengan yang lain. Sebab perihal perjalanan hidup Yusuf ini melalui liku-liku yang dramatis hingga ia menjadi raja muda di Mesir. Oleh karena itu muncullah perkataan itu  yang dipesankan oleh Yusuf kepada saudara-saudaranya yang hendak kembali ke Kanaan. 

Di dalam hidup kita juga sering uring-uringan atau saling mempersalahkan antar sesama anggota keluarga sesama teman pelayanan sesama saudara dan lain sebagainya. Kadang-kadang kita memang tidak tahu rencana Tuhan atas hidup kita. Oleh karena itu carilah kehendaknya seperti Yusuf yang selalu mencari kehendak Tuhan, sehingga dia selalu menyadari bahwa semua kebaikan yang diberikan oleh Tuhan terjadi bukan karena rencananya sendiri atau rencana saudara-saudaranya tetapi rencana baik dari Tuhan.

 

Roma 8:28

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

 

 

Rencana Tuhan tidak pernah salah

 Pagi tadi saya membaca perikop di Kitab Kejadian 37 yang menceritakan tentang bagaimana Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Bahkan sesungguhnya direncanakan akan dibunuh ( Kejadian 37:20 ) kalau saja Ruben kakak tertuanya tidak mencegahnya ( Kejadian 37:21 ).

Sayapun mencoba membayangkan andaikata ada di posisi Yusuf pada saat itu, sebagai anak yang dikasihi oleh Yakub ayahnya maka saudara-saudaranya menjadi iri hati kepadanya.  Kebetulan juga Yusuf juga bermimpi dimana mimpinya itu seoah olah ia akan manjadi seorang pemimpin. Sudah barang tentu semakin menjadi-jadi kebencian  kakak-kakaknya.

Pada saat peristiwa itu terjadi, Yusuf tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan ke depannya sehingga sampai dia menjadi raja muda di Mesir. Ia hanya menjalani hidupnya sedemikian rupa.

Sesungguhnya manusia itu bisa berubah sifat menjadi kejam bilamana di dalam hatinya timbul iri hati. Bayangkan pada masa itu mengapa orang sudah punya rencana membunuh dan merekayasa sesuatu hal?

Jika kisah ini dipotong sampai disini saja, maka kita tidak bisa menyimpulkan bahwa rencana TUHAN baik untuk Yusuf.  Tentu kita menduga bahwa Tuhan tidak melindungi Yusuf. Tetapi jika kita mengikuti nya sampai peristiwa berikutnya.  Maka kita baru bisa melihat rencana Tuhan yang baik atas Yusuf.

Perjalanan hidup kita manusia pun melalui berbagai lembah dan bukit. Kadang kita merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita, tetapi sesungguhnya rencana-Nya sedang berjalan untuk kebaikan kita

Spiritualitas dan sejarah yang membangun keimanan

 Saya sekolah di SMA jurusan IPA, itu pada periode 1983-1986.  Mata peajaran saya lalui dengan tekun saja tetapi bukan dengan cinta. Target saya hanyalah meraih nilai supaya saya bisa lulus dengan baik.  Dan tentu ini menjadi idaman orang tua.  Entahah mengapa cinta kepada pelajaran IPA itu tidak bisa timbul di hati saya.  Sedangkan mata pelajaran IPS lebih mudah saya serap karena saya memandang kebanyakan hanya berupa hafalan-hafalan.  Inipun tidak bisa menimbulkan cinta kepada mata pelajaran sosial.  Saya juga bingung pada saat itu, namun saya tidak mencari tahu melalui sisi intelektuialitas saya. Dengan keterbatasan dana saya tidak bisa mencari buku-buku yang mencerahkan pikiran saya.

Waktu SMA buku-buku yang sifatnya tentang spiritual sudah saya sukai. Beberapa buku tentang bagaimana membaca aura, bagaimana menggunakan pendulum, bagaimana belajar hipnotis, dan buku-buku sejenisnya sudah menjadi sebuah kegemaran tersendiri bagi saya. Saat itu saya juga mempraktikkan bagaimana memakai pendulum dan menurut saya memang sesuatu yang mengagumkan. Itu sekitar tahun delapan puluhan loh sudah lama sekali.

Singkat kata setelah saya menjadi dewasa dan menjelang setengah abad, saya mulai mencintai isyu isyu sejarah dan spiritualitas.  Seperti sebuah perjalanan hidup yang memang harus dilalui. Saya juga tidak pernah kecewa mengapa saat SMA saya tak pernah mencintainya.  Setelah berpenghasilan saya lebih bisa banyak membeli buku-buku tentang spiritual dan sejarah.  Sebagai pengikut Yesus Kristus saya ingin mencintai-Nya bukan dengan cara yang seperti kebanyakan orang lakukan. Ada sisi-sisi yang perlu saya sisir dari luar melalui buku-buku yang kadang menantang iman percaya saya. Bukan sebagai pencarian untuk memperoleh sesuatu yang meneguhkan iman saya. Tetapi inilah yang membuat saya memahami Yesus dengan cara yang lebih rumit menurut saya.  Senang sekali tatkala mendengarkan ulasan-ulasan teologi dari para dosen sekolah teologi yang begitu kritis dan luas pemahamannya.  Bukan dengan terdoktrin secara membabi buta belaka.  Ketika di gereja saya ada serial pembinaan untuk pengerja, saya mengikutinya. Membedah "kitab suci" dari sisi sejarah membuat saya sangat tertarik.  Membaca buku-buku yang menyoroti kekristenan dari sisi penulis sekuer juga sungguh memperkaya saya.  Dari situlah justru iman saya terbangun dengan alami.  Saya dengan mudah bisa menemukan benang merah dan menepis keraguan-keraguan yang kadang timbul membersit ditengah perjalanan hidup saya.

Secara pribadi saya suka bersikap kritis terhadap spiritualitas. Saya membaca berulang-ulang buku yang kadang membuat saya mengernyitkan dahi.  Saya menyukai isyu-isyu penciptaan, kisah-kisah dari mitologi Yunani yang semuanya itu memperkaya. Saya menjadi maklum ketika membaca ada kemiripan tentang kisah kisah penciptaan di kitab suci dengan kisah mitologi. Namun sekali lagi saya sangat maklum, pemahaman saya tentang bagaimana cara orang zaman dahulu bertutur dan menceritakan kembali kisah yang barangkali diterima dari mulut-ke mulut.  Namun di hadapan banyak orang saya tidak sering berpendapat, saya lebih suka melihat apa komentar komentar teman teman sambil mengamati nya.

Sekelumit kisah perjalanan ini saya tuliskan untuk sekedar berbagi dengan pembaca, barangkali ada yang punya pemikiran mirip dengan saya.