Hidup Selamanya ?

 Sejak kapan sih sebenarnya manusia berpikir agar bisa hidup selamanya, atau setidaknya hidup lebih lama?  Apakah seseorang akan mengalami hal=hal yang sangat menyenangkan ketika ia bisa hidup selamanya? Ini yang ada di dalam pemikiran saya.  Saya tidak sedang menghubungkannya dengan HIDUP KEKAL menurut pengertian agama.  Sebab hidup kekal menurut pemahaman agama bukanlah hidup yang secara fisik tetap ada eksistensinya, namun sepengetahuan saya itu adalah kehidupan secara roh atau spiritual.

Apakah sebenarnya hanya ego manusia saja yang mendorongnya sehingga seseorang ingin hidup selama-lamanya.  Sampai sekarang belum ditemui orang yang bisa hidup selama-lamanya.  Sebab keberadaan tubuh ini bisa mengalami penuaan, kerusakan sel, ke-aus-an dan sebagainya. Sedangkan mereka yang moksa yaitu orang orang suci, mereka ada dalam pengertian tidak mati hanya karena jasadnya tidak ada lagi dibumi. Bukan dalam pengertian stil alive sampai sekarang bukan?

Kalau benar manusia hanya mengejar egonya maka keberadaan nya yang kekal selamanya ada di bumi bisa membuat mereka saling membinasakan.  Dan mungkin akhirnya mereka akan berperang "mati-matian" jika mereka ternyata tidak bisa mati. Maka kehidupan yang ada akan senantiasa penuh dengan permusuhan.

Namun disisi lain jika keinginan hidup selamanya itu untuk tujuan yang lebih mulia, barangkali saja kejadiannya bisa berbeda.

Entahlah

Pemikiran ini hanya imajinasi saya saja, jangan terlalu diambil hati

Catatan untuk pengutang

 Saya menulis ini bukan dalam rangka merendahkan orang yang berhutang. Terminologi berhutang disini adalah berhutang secara pribadi person to person, bukan hutang kepada Bank yaa.  Kenapa demikian? Sebab hutang kepada Bank pertimbangan yang dilakukan oleh Bank sudah sangat teliti, sehingga hanya orang yang layak saja yang diberikan.   Berbeda dengan hutang pribadi, ini yang pertimbangannya hanya hati saja (kadang-kadang) sehingga jika tidak tertagih juga akan makan hati atau kecewa.   Bahkan bisa merusak hubungan persaudaraan atau pertemanan.

Prinsip utama para pengutang yang harus diperhatikan adalah Setiap hutang harus dibayar dengan jumlah sama dan dalam kurun waktu tertentu. Prinsip ini sering dilanggar dan memanfaatkan belas kasihan si pemberi hutang. Ini menjengkelkan sesungguhnya.  Bukankah pemberi hutang juga punya permasalahan sendiri? Bukan menjadi ATM yang setiap saat bisa di tarik uangnya.  Kalau sedang membutuhkan maka akan memasang wajah memelas dan menghiba supaya bisa diberikan pinjaman.  Tapi tahukah hai kalian pemberi hutang, jika para pengutang memasang wajah yang sama pada 5 orang saja maka bisa jadi omsetnya sudah bisa dikalikan 5 bukan.  Kita pemberi hutang tidak tahu lingkaran atau circle mereka, sehingga kita hanya punya gambaran seolah-olah kita sendiri yang memberikan pinjaman. Padahal...... omaigat bisa jadi dia mengcopas nya kepada banyak orang yang berbeda lingkaran/kalangan.  Sehingga tidak bisa saling ngecek. Ini jahatnya para pengutang yang buruk.

Sikap kita kepada mereka yang jenis ginian harus tegas dan tidak mudah emosional memakai hati, karena itu akan menipu perasaanmu sendiri. Karena yang beginian terbukti tidak pernah menyelesaikan pinjamannya dengan baik atau ngemplang.  Sebagai pemberi hutang maka cukup berikan secukupnya dan anggaplah uang hilang.  Supaya kita tidak pernah kecewa dan rusak relasi kita. Kecuali kita memang sudah hendak tidak berhubungan sama sekali dengan mereka, ya blokir lah mereka semua dan damai sejahteralah hidupmu ha ha ha...

Selamat mencoba curhatan saya

Jangan saling menyalahkan

Mari kita merenungkan firman Tuhan dalam Kitab Kejadian 45:24

 "Kemudian ia melepas saudara-saudaranya serta berkata kepada mereka:" Janganlah berbantah-bantah di jalan," Perkataan ini muncul setelah Yusuf membuka jati dirinya di hadapan saudara-saudaranya, ia merasa khawatir bilamana saudara-saudaranya nanti saling mempersalahkan satu dengan yang lain. Sebab perihal perjalanan hidup Yusuf ini melalui liku-liku yang dramatis hingga ia menjadi raja muda di Mesir. Oleh karena itu muncullah perkataan itu  yang dipesankan oleh Yusuf kepada saudara-saudaranya yang hendak kembali ke Kanaan. 

Di dalam hidup kita juga sering uring-uringan atau saling mempersalahkan antar sesama anggota keluarga sesama teman pelayanan sesama saudara dan lain sebagainya. Kadang-kadang kita memang tidak tahu rencana Tuhan atas hidup kita. Oleh karena itu carilah kehendaknya seperti Yusuf yang selalu mencari kehendak Tuhan, sehingga dia selalu menyadari bahwa semua kebaikan yang diberikan oleh Tuhan terjadi bukan karena rencananya sendiri atau rencana saudara-saudaranya tetapi rencana baik dari Tuhan.

 

Roma 8:28

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

 

 

Rencana Tuhan tidak pernah salah

 Pagi tadi saya membaca perikop di Kitab Kejadian 37 yang menceritakan tentang bagaimana Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Bahkan sesungguhnya direncanakan akan dibunuh ( Kejadian 37:20 ) kalau saja Ruben kakak tertuanya tidak mencegahnya ( Kejadian 37:21 ).

Sayapun mencoba membayangkan andaikata ada di posisi Yusuf pada saat itu, sebagai anak yang dikasihi oleh Yakub ayahnya maka saudara-saudaranya menjadi iri hati kepadanya.  Kebetulan juga Yusuf juga bermimpi dimana mimpinya itu seoah olah ia akan manjadi seorang pemimpin. Sudah barang tentu semakin menjadi-jadi kebencian  kakak-kakaknya.

Pada saat peristiwa itu terjadi, Yusuf tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan ke depannya sehingga sampai dia menjadi raja muda di Mesir. Ia hanya menjalani hidupnya sedemikian rupa.

Sesungguhnya manusia itu bisa berubah sifat menjadi kejam bilamana di dalam hatinya timbul iri hati. Bayangkan pada masa itu mengapa orang sudah punya rencana membunuh dan merekayasa sesuatu hal?

Jika kisah ini dipotong sampai disini saja, maka kita tidak bisa menyimpulkan bahwa rencana TUHAN baik untuk Yusuf.  Tentu kita menduga bahwa Tuhan tidak melindungi Yusuf. Tetapi jika kita mengikuti nya sampai peristiwa berikutnya.  Maka kita baru bisa melihat rencana Tuhan yang baik atas Yusuf.

Perjalanan hidup kita manusia pun melalui berbagai lembah dan bukit. Kadang kita merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita, tetapi sesungguhnya rencana-Nya sedang berjalan untuk kebaikan kita